Pemimpin dengan gaya otoriter disebut
juga tipe kepemimpinan authoritarian. Dalam kepemimpinan ini, pemimpin
bertindak sebagai diktator terhadap anggota - anggota kelompoknya. Baginya
memimpin adalah menggerakkan dan memaksa kelompok. Batasan kekuasaan dari
pemimpin otoriter hanya dibatasi oleh undang - undang. Bawahan hanya bersifat sebagai
pembantu, kewajiban bawahan hanyalah mengikuti dan menjalankan perintah dan
tidak boleh membantah atau mengajukan saran. Mereka harus patuh dan setia
kepada pemimpin secara mutlak. Pemimpin yang otoriter tidak menghendaki rapat
atau musyawarah. Negara Indonesia sempat mempunyai pemimpin yang otoriter yaitu
Soeharto yang memimpin selama 32 tahun.
Dengan gaya kepemimpinan yang otoriter,
inisiatif dan daya pikir masyarakat sangat dibatasi, sehingga tidak diberikan
kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya.
Hal ini sangat terasa oleh wartwan pada saat itu, bayangkan saat mereka mencium
aroma korupsi tapi saat ingin memberitakan mereka dihantui rasa takut karena
pada saat itu wartawan tidak diberikan kesempatan sebebas seperti sekarang.
Karena asal anda tahu saja, saat kita membicarakan hal yang buruk tentang
pemerintahan akan ada ‘bayangan’ bunyi senapan dibelakang diri anda.
Namun disisi lain kelebihan model
kepemimpinan otoriter ini ada di pencapaian prestasinya. Kepemimpinan Soeharto
membuat Indonesia dijuluki sebagai macan Asia karena pertumbuhan ekonomi yang
sangat pesat, dan hubungan baik dengan negara-negara di PBB sehingga membuat
Indonesia terangkat dari daftar salah satu negara miskin di dunia, menjadi
negara berkembang.
Jujur saja, banyak dari teman
saya bahkan guru saya mengatakan lebih enak hidup di zaman Soeharto,
kehidupannya aman, tentram, orang tidak berani macam-macam. Ya iya lah orang
tidak berani macam macam, karena berbicara tentang fakta yang benar benar
terjadi (seperti hilangnya AS $ 35 Milyar uang negara kita) saja
artinya....KIAMAT SUDAH DEKAT!
Menurut saya lebih enak hidup
di era sekarang, orang-orang sudah dengan nyaman menyampaikan pendapatnya. Kita
dapat lebih mudah memantau orang yang mewakili kita disana. Lagi pula saya
tidak tahu mau beropini apa mengenai zaman pemerintahan Soeharto, karna pada
saat beliau memimpin (hampir mau lengser, tahun 1998) saya baru berumur 1
tahun. Saya bisa maklumi guru saya mengatakan enak hidup di era Soeharto karna
mereka sudah bisa merasakan, hitunglah umur mereka 20-an saat itu, tapi yang
saya tidak bisa maklumi adalah teman saya yang dengan sok kerennya dan
(mungkin) merasa nasionalis mengatakan enak zaman Soeharto.
What the hell! Dia pikir
umur berapa dia saat itu?
Memangnya anak umur 1 tahun sudah bisa membedakan
enak apa tidaknya suatu pemerintahan?
Megang botol susu saja belum becus. -__-
Saya bisa mengerti betapa tidak
enak hidup saat pemerintahan Soeharto karna mendengar cerita dari orang tua
saya, membaca dari internet, saya buka youtube untuk mengetahui betapa
kompaknya pemuda pada saat itu untuk menggulung Soeharto dari tahta-nya,
menonton tragedi Trisakti 1998 dan masih banyak lagi.
Jika kita berbicara atau mau
terlihat keren dari yang lainnya, seharusnya kita harus menambah literatur
terlebih dahulu. Jangan mendengar dari satu sumber dan berpikir itu keren
langsung saja disebarkan ke yang lainnya dan berharap akan dibilang berwawasan
luas.
Banyak pemuda bodoh sekarang, tapi saya yakin lebih banyak pemuda yang
cerdas di Indonesia ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar