Minggu, 26 Januari 2014

Soeharto dan Gaya Kepemimpinannya


Pemimpin dengan gaya otoriter disebut juga tipe kepemimpinan authoritarian. Dalam kepemimpinan ini, pemimpin bertindak sebagai diktator terhadap anggota - anggota kelompoknya. Baginya memimpin adalah menggerakkan dan memaksa kelompok. Batasan kekuasaan dari pemimpin otoriter hanya dibatasi oleh undang - undang. Bawahan hanya bersifat sebagai pembantu, kewajiban bawahan hanyalah mengikuti dan menjalankan perintah dan tidak boleh membantah atau mengajukan saran. Mereka harus patuh dan setia kepada pemimpin secara mutlak. Pemimpin yang otoriter tidak menghendaki rapat atau musyawarah. Negara Indonesia sempat mempunyai pemimpin yang otoriter yaitu Soeharto yang memimpin  selama 32 tahun.

Dengan gaya kepemimpinan yang otoriter, inisiatif dan daya pikir masyarakat sangat dibatasi, sehingga tidak diberikan kesempatan untuk mengeluarkan pendapatnya. Hal ini sangat terasa oleh wartwan pada saat itu, bayangkan saat mereka mencium aroma korupsi tapi saat ingin memberitakan mereka dihantui rasa takut karena pada saat itu wartawan tidak diberikan kesempatan sebebas seperti sekarang. Karena asal anda tahu saja, saat kita membicarakan hal yang buruk tentang pemerintahan akan ada ‘bayangan’ bunyi senapan dibelakang diri anda.

Namun disisi lain kelebihan model kepemimpinan otoriter ini ada di pencapaian prestasinya. Kepemimpinan Soeharto membuat Indonesia dijuluki sebagai macan Asia karena pertumbuhan ekonomi yang sangat pesat, dan hubungan baik dengan negara-negara di PBB sehingga membuat Indonesia terangkat dari daftar salah satu negara miskin di dunia, menjadi negara berkembang.

Jujur saja, banyak dari teman saya bahkan guru saya mengatakan lebih enak hidup di zaman Soeharto, kehidupannya aman, tentram, orang tidak berani macam-macam. Ya iya lah orang tidak berani macam macam, karena berbicara tentang fakta yang benar benar terjadi (seperti hilangnya AS $ 35 Milyar uang negara kita) saja artinya....KIAMAT SUDAH DEKAT! 

Menurut saya lebih enak hidup di era sekarang, orang-orang sudah dengan nyaman menyampaikan pendapatnya. Kita dapat lebih mudah memantau orang yang mewakili kita disana. Lagi pula saya tidak tahu mau beropini apa mengenai zaman pemerintahan Soeharto, karna pada saat beliau memimpin (hampir mau lengser, tahun 1998) saya baru berumur 1 tahun. Saya bisa maklumi guru saya mengatakan enak hidup di era Soeharto karna mereka sudah bisa merasakan, hitunglah umur mereka 20-an saat itu, tapi yang saya tidak bisa maklumi adalah teman saya yang dengan sok kerennya dan (mungkin) merasa nasionalis mengatakan enak zaman Soeharto.

What the hell! Dia pikir umur berapa dia saat itu? 

Memangnya anak umur 1 tahun sudah bisa membedakan enak apa tidaknya suatu pemerintahan?

Megang botol susu saja belum becus. -__-

Saya bisa mengerti betapa tidak enak hidup saat pemerintahan Soeharto karna mendengar cerita dari orang tua saya, membaca dari internet, saya buka youtube untuk mengetahui betapa kompaknya pemuda pada saat itu untuk menggulung Soeharto dari tahta-nya, menonton tragedi Trisakti 1998 dan masih banyak lagi. 

Jika kita berbicara atau mau terlihat keren dari yang lainnya, seharusnya kita harus menambah literatur terlebih dahulu. Jangan mendengar dari satu sumber dan berpikir itu keren langsung saja disebarkan ke yang lainnya dan berharap akan dibilang berwawasan luas.

Banyak pemuda bodoh sekarang, tapi saya yakin lebih banyak pemuda yang cerdas di Indonesia ini.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar