Jaman sekarang ini, banyak orang yang sudah ngga kagok lagi dengan yang namanya internet.
Hampir semua orang menggunakan internet, ada yang untuk men-share apa yang mau
di share, curhat, jualan, cari; pasangan, kenalan, teman lama, berdoa(yang ini
sih lumrah banget ya berdoa sama Tuhan lewat jejaring sosial), atau sekadar
mengeluarkan opini. Dari mulai anak-anak sampai dewasa rata-rata sudah punya
jejaring sosial.
Terkadang saat kita mengeluarkan opini, ngga semua orang
bisa terima yang menurut kita benar. Menurut saya, kalo terjadi gesekan itu sih
cuma karna beda cara pandang aja. Misalnya gini, Jokowi maju menjadi capres
2014 ada yang setuju ada yang tidak. Kalau kita meletakkan posisi diri kita
pada orang yang kontra maka yang kita ucapkan ‘ngga usah dulu lah Pak Jokowi
maju, benerin Jakarta dulu gih, baru deh maju. Belum juga apa-apa masa mau
maju.” Atau kalau kita menjadikan diri kita sebagai orang yang pro maka kita
akan beropini ‘ngga papa Pak Jokowi maju, justru bagus karna kita mempunyai
pilihan pilihan yang bersih, karna semakin banyak orang seperti Pak Jokowi, Pak
Anies Baswedan dll yang maju akan membuat kita tenang dan ngga ngedumel
sendiri. Masa kita mau selama ini kita memilih orang-orang yang sudah kita tahu
trackrecord-nya ngga baik.’ Nah, beda sudut pandang aja. Terserah anda mau
berdiri pada sudut pandang atau posisi yang mana?
Atau misal kasus diadakannnya UN setuju apa tidak. Kalau
kita meletakan posisi kita sebagai anak anak (yang akan mengikuti UN)
kebanyakan dari kita akan mengatakan ‘tidak usah lah diadakan ujian ujian
segala, emang sama apa kualitas pendidikan kita sama pusat sana?’ (menurut saya
yang beropini seperti ini tidak hanya murid, tapi sebagian orang tua bahkan
guru). Atau kalau kita meletakan posisi kita sebagai pemerintah, maka yang
terucap dari bibir kita adalah ‘ujian nasional itu adalah kegiatan pengukuran
dan penilaian pencapaian kompetensi lulusan secara nasional pada mata pelajaran
tertentu. Jadi ya perlu, tujuan nya untuk menilai pencapaian kompetensi lulusan
secara nasional pada mata pelajaran tertentu dalam kelompok mata pelajaran ilmu
pengetahuan dan teknologi.’
Ya, sistem pendidikan di Indonesia emang jauh beda dengan
Finlandia ya. (sudah pernah saya bahas sebelumnya di blog)
Jadi, menurut saya perbedaan opini itu wajar-wajar saja,
tidak perlu dibesar besarkan( karna banyak sekali orang yang membesar besarkan
suatu masalah yang tidak terlalu penting dan kurang layak menjadi penting).
Postingan kali ini saya tutup dengan kutipan buku “Berani
Mengubah” karya Pandji Pragiwaksono.
‘Biasakan bekerja sama dalam perbedaan. Perbedaan ini
tidak hanya soal beda suku, ras, agama, dan golongan, tetapi juga berbeda dalam
pendapat. Mudah untuk kerja sama dalam kelompok yang sepikiran, tetapi sulit
untuk tetap bisa mencapai cita-cita bersama ketika setiap orang punya ide dan
gagasan yang berbeda dalam hal menuju sana. Inilah masalah Indonesia. The good guys aren’t as organized as
organized crime.
Anda
bisa mengubah ini.’