Saat ketika aku dan keluarga ku
diperjalanan menuju sebuah tempat pariwisata. Entah kenapa obrolan kami seakan
menuju kesebuah titik mengenai “cara penanaman atau penyuburan tanaman dengan
baik”. Absurd memang,itulah keluarga kami. Satu persatu dari kami secara
otomatis mengemukakan pendapatnya. Ibu pun
bekata “Tanaman itu biar subur yaa dikasih pupuk,gitu aja kok repot.”
“Tapi kan kalau ndak disiram yoo dikalikan nol wae.” Tanggap kakek dengan logat
jawanya yang kental. Dengan bangga ayah berkata, “kenapa mesti repot-repot sih
tanya aja ke ahli-nya nih.” Menunjuk dirinya dengan penuh rasa.
“Menurut Deo sih mestinya tanaman itu
dikasih pupuk, terus rajin disiram,bakalan tumbuh sendiri dia.” Deo yang dari
tadi diam tak disangka menyimak apa yang kami bicarakan,bahkan ikut ambil
bagian dalam “diskusi” ini. “Tapi, caranya menggemukkan hewan ternak gimana?”
tanya Cinta dengan muka serius. “Aku aja pernah coba menghidupkan kembali
ayam-ayam ku yang sudah mati loh..” belum selesai Farel bercerita,dengan heran
dan antusiasnya Cinta bertanya “ Hah,gimana caranya kenapa bisa? dan… bisa
ngga?.”
“ Jadi gini ceritanya waktu itu aku beli
10 ekor anak ayam,masih keci-kecil. Eh ngga tau kenapa pada mati. Terus aku
mendapat inspirasi dari ayahku saat dia menanam bibit cengkeh. Cengkeh itu akan
subur jika diberi pupuk secukupnya dan disiram dua kali sehari. Otomatis aku
mengikuti caranya dan aku praktikkan pada kasus ayam-ayam ku ini. Aku ambil
ayam ku yang sudah mati lalu aku kubur dan aku beri kotoran sapi sebagai
pupuk-nya. Lalu aku siram.”
“Lalu apa hasilnya?” tanya Cinta. Dengan muka
sedikit menyesal Farel menjawab “Ternyata cara yang selama ini ayahku berikan
itu salah besar,buktinya saat aku praktikkan ke ayam-ayam ku dia tak kunjung
hidup sampai sekarang.”
Ps: (Maaf kalo
garing SPOOF-nya,ngga ditutup tadi,jadi lempem deh)