Seperti liburan 2 tahun sebelumnya,destinasi
liburan gue ya tetep ke Jawa,ke tempat eyang. Tapi berbeda dari liburan yang
sebelumnya,kenapa? Karena yang biasanya dari Sintang (rumah gue,yang belum
pernah denger nama kota ini jangan merasa ngga gaul dulu,emang terpencil
tempatnya.) ke Pontianak pake bemo sendiri dan disupirin Bokap untuk kali
pertama kami mutusin untuk charter kendaraan dan ngga bareng Bokap,soalnya
beliau sibuk. Yang artinya bukan Bokap gue yang nyupirin. Oke,mungkin kalian
pada heran “emang kenapa kalo bukan Bokap lo yang nyetir? Terus gue harus bilan…..”
Udah basi La basi.
Bukan,bukan itu
masalahnya. Bayangin lo sedang disupirin oleh seseorang yang gadget nya lagi
in,Iphone 5,terlepas doi cast ataupun credit yang penting punya. Selain itu
punya p-a-c-a-r,dan selama perjalanan kalimat-kalimat “udah sampe mana
sayankesss…?” selalu terngiang dikuping lo. Maybe,kalo kalian menyaksikan
peristiwa ini kalian bakal bingung mana supir mana tuannya(gue kalah keren
soalnya).Masalah lainnya muncul ketika aroma gel yang digunakan doi memenuhi
ruang mobil. Kaca yang tadinya bersih menjadi timbul bercak hijau seperti halnya
lumut yang tersusun begitu rapi layaknya permadani disetiap sudutnya,mungkin
terjadi reaksi kimia antara molekul aroma gel dan tentu saja dengan kaca mobil.
Waktu on the way,dengan
gaya sok cool om supir ini masukin sebuah chip(bukan chips= keripik,tapi
chip=memori gitu.) yang terlintas dalam benak gue saat itu doi bakalan muter-in
lagu yang sedang in,sama seperti gadget yang doi pakai.
*krik*
*krik* *krik*
Ralat! Kami sama sekali
ngga bawa hewan peliharaan,apalagi jangkrik.
60 detik berlalu,1
menit berlalu,23 detik berlalu…
Dangdut koplo mengalun
dengan sadisnya,membuat lumut yang tumbuh dikaca(akibat reaksi tadi) menjadi
bergoyang dengan syahdunya. Gue ilang feeling,Nyokap ilang feeling,Deo ilang
feeling. Intinya kami bertiga ilang feeling.
Oke,gue salah dalam
menilai kali ini. Yang gue pikir karna om supir ini memiliki Iphone 5,gadget
yang sedang in dikalangan masyarakat doi akan memutar lagu seperti layaknya
“kelas” gadget yang dimiliki.
Pelajaran yang gue
dapet,gadget itu bukan tolak ukur tingkat
selera musik seseorang. Bisa aja gadgetnya mahal tapi dalemnya dangdut koplo
semua,atau bisa aja yang gadget standar justru dalemnya musik yang lebih
berkelas,atau bisa juga gadgetnya mahal setara dengan selera musik sang
pemiliknya,dapat pula gadgetnya standar mengikuti ke-standaran selera
pemiliknya. So,jangan menilai selera musik atau apapun itu(yang kalian ingin
nilai) dengan gadget atau unsur eksternal lain yang orang lain punya.