Dari apa yang
pernah gue baca dan denger,Indonesia adalah Negara dengan ranking terendah
dalam hal pendidikan. Dan yang menduduki urutan pertama ada di Negara
Finlandia,Eropa utara. Gue bakalan kasih gambaran sedikit tentang gimana sih
pendidikan di Negara Finlandia. Cek this out.
Negara Finlandia
ini make konsep “Tess less,Learn more” yang artinya “kurangi tes,perbanyak
belajar”. Beda banget sama system yang dipake di Indonesia,menurut gue di Indonesia
terlalu banyak tes yang dilakuin untuk menguji seberapa pintar siswanya(terlepas dari posisi gue yang masih sebagai pelajar).
Kalo di Indonesia tes dilakuin untuk menguji seberapa pintar siswanya,beda lagi
sama Finlandia,Negara ini ngelakuin tes untuk menguji seberapa masuk pelajaran
yang disampein sama
gurunya,gitu kalo ngga salah. Dan juga guru-guru di finlandia ini minimal harus
S2 dan juga harus lulusan terbaik,keunggulanya lagi nih dalam satu kelas
maksimal ada 20 anak yang dibimbing oleh 3 guru sekaligus,udah ngga perlu gue
jelasinkan apa bedanya dengan Indonesia.
Kalo mau baca lebih
jelas http://edukasi.kompasiana.com/2012/05/24/konsep-pendidikan-di-finlandia-465541.html
Jujur aja
sebenernya gue agak bingung sama pendidikan di Negara tercinta kita ini, kalo
gue mau jadi psikolog masak iya gue kudu belajar hukum Pascal. Atau orang yang
pengennya jadi pengusaha lele, terus
tiba-tiba ditanya “Mas,kalo
massa jenis air 1 g/cm3 percepatan gravitasi 10 m/s2 ,
dan tekanan udara 105N/m2. Tekanan absolut pada dasar
kolam renang dengan ukuran 1,8 m X
10 m dan kedalaman 2 meter itu berapa ya mas?” NGGA
mungkin kan?! Ya paling kalo lo jadi pengusaha lele mentok-mentok ditanya “Lele sekilo berapa mas?”
atau “Mas lele-nya makanan-nya bukan pup kan yaa?.”
Atau
lo pengen jadi wirausahawan, tapi yang dicekok-in di sekolah malah Hukum
Bernoulli atau diminta(bukan diminta sih,lebih tepatnya diwajibkan. Ya iya lah
gue bilang diwajibkan,soalnya kalau ngga bisa jawab ngga bakalan tuntas.) menjawab
model soal yang gini “ Untuk mengalirkan air pam kerumah-rumah pelanggan,Andi
seorang petugas PDAM membuat 50 sambungan pada suatu komplek perumahan. Jika
pada pipa induk yang masuk ke kompleks tersebut mempunyai diameter 8/√∏ cm dan
kecepatan aliran air padanya 100 cm/s sementara diameter pipa yang masuk
kerumah pelanggan masing-masing sama sebesar 1/√∏ cm. Berapa debit yang masuk
kerumah pelanggan? Berapa kecepatan air yang masuk kerumah pelanggan?”
Aneh?
Memang!
Dari
soal diatas gue punya beberapa pertanyaan,antara lain:
1.Kenapa harus tanya ke kita?
Yaa itu karna tugas kalian sebagai seorang pelajar.
Tapi,dari permasalahan diatas dia ingin menjadi seorang
wirausahawan,kenapa harus mempelajari ini?
Yaa.. karnaaa.... untuk jaga-jaga,siapa tau perlu.
Siapa tau perlu? Emang ada hubungannya wirausahawan
dengan menghitung debit air PDAM?
Hmmm.... ngga tau deh!
(maaf ini kenapa gue berdebat sama diri gue sendiri
gini?)
2.Ternyata kepo itu ngga hanya dilanda sama kaum muda terutama
secret admirer saja. Guru bisa juga ternyata. Lah buktinya pake nanya-nanya
segala. Yaa mana gue tau alasannya?, pertama; gue bukan Andi,tukang PDAM itu.
Kedua; Apa urusannya gue ngitung-ngitung debit air?. Ketiga; Apa jangan-jangan
bapak/ibu guru ada hubungan sama Andi, dengan cara menarik perhatian dia dengan
membantu dia menghitung debit air,dan ternyata ngga bisa,terus bertanya ke
muridnya?.
Tapi jangan kalian mandang gue nulis ini sebagai sisi
pelajar,tapi pandanglah gue disini sebagai sisi warga negara republik
Indonesia.
Harapan gue untuk pendidikan Indonesia. Semoga bisa
menyerupai pendidikan di Finlandia sana,atau lebih malah. Dan ngga hanya
sebatas itu aja,tapi untuk temen-temen kita yang ngga seberuntung kita untuk
mengenyam pendidikan sekolah,semoga “dijamah” sama pemerintah, atau ada
temen-temen yang dengan sukarela bantuin mereka malah lebih bagus lagi, jadi
bukan hanya kasihan atau simpati aja, tapi udah berbuat untuk kemajuan
pendidikan Indonesia.
Ketinggian banget La harapan lo...
Menurut gue sih ngga masalah lah berharap nya
tinggi-tinggi, coba lo periksa di UUD 45 ada pasal yang nyebut berharap
tinggi-tinggi itu salah ngga?
Ngga ada.. tapi kan kalo harapan lo ngga kejadian gimana?
Sakit kan?
Ya ngga masalah sih, sakit kan, sakit gue bukan lo.. yee
:p
(Maaf sekali lagi, terkadang dalam nulis gue emang punya
2(dua) sisi yang berbeda)
Ps: Gue bukan menuntut kalian untuk setuju dengan yang
gue tulis, gue cuma menuangkan apa yang jadi unek-unek gue selama ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar