Selasa, 02 April 2013

INDONESIA OHH INDONESIA



Dari apa yang pernah gue baca dan denger,Indonesia adalah Negara dengan ranking terendah dalam hal pendidikan. Dan yang menduduki urutan pertama ada di Negara Finlandia,Eropa utara. Gue bakalan kasih gambaran sedikit tentang gimana sih pendidikan di Negara Finlandia. Cek this out.

Negara Finlandia ini make konsep “Tess less,Learn more” yang artinya “kurangi tes,perbanyak belajar”. Beda banget sama system yang dipake di Indonesia,menurut gue di Indonesia terlalu banyak tes yang dilakuin untuk menguji seberapa pintar siswanya(terlepas dari posisi gue yang masih sebagai pelajar). Kalo di Indonesia tes dilakuin untuk menguji seberapa pintar siswanya,beda lagi sama Finlandia,Negara ini ngelakuin tes untuk menguji seberapa masuk pelajaran yang disampein sama gurunya,gitu kalo ngga salah. Dan juga guru-guru di finlandia ini minimal harus S2 dan juga harus lulusan terbaik,keunggulanya lagi nih dalam satu kelas maksimal ada 20 anak yang dibimbing oleh 3 guru sekaligus,udah ngga perlu gue jelasinkan apa bedanya dengan Indonesia.

Kalo mau baca lebih jelas http://edukasi.kompasiana.com/2012/05/24/konsep-pendidikan-di-finlandia-465541.html

Jujur aja sebenernya gue agak bingung sama pendidikan di Negara tercinta kita ini, kalo gue mau jadi psikolog masak iya gue kudu belajar hukum Pascal. Atau orang yang pengennya jadi pengusaha lele, terus tiba-tiba ditanya “Mas,kalo massa jenis air 1 g/cm3 percepatan gravitasi 10 m/s2 , dan tekanan udara 105N/m2. Tekanan absolut pada dasar kolam renang dengan ukuran 1,8 m X 10 m dan kedalaman 2 meter itu berapa ya mas?” NGGA mungkin kan?! Ya paling kalo lo jadi pengusaha lele mentok-mentok ditanya “Lele sekilo berapa mas?” atau “Mas lele-nya makanan-nya bukan pup kan yaa?.”

Atau lo pengen jadi wirausahawan, tapi yang dicekok-in di sekolah malah Hukum Bernoulli atau diminta(bukan diminta sih,lebih tepatnya diwajibkan. Ya iya lah gue bilang diwajibkan,soalnya kalau ngga bisa jawab ngga bakalan tuntas.) menjawab model soal yang gini “ Untuk mengalirkan air pam kerumah-rumah pelanggan,Andi seorang petugas PDAM membuat 50 sambungan pada suatu komplek perumahan. Jika pada pipa induk yang masuk ke kompleks tersebut mempunyai diameter 8/√∏ cm dan kecepatan aliran air padanya 100 cm/s sementara diameter pipa yang masuk kerumah pelanggan masing-masing sama sebesar 1/√∏ cm. Berapa debit yang masuk kerumah pelanggan? Berapa kecepatan air yang masuk kerumah pelanggan?”

Aneh? Memang!

Dari soal diatas gue punya beberapa pertanyaan,antara lain:

1.Kenapa harus tanya ke kita?

Yaa itu karna tugas kalian sebagai seorang pelajar.

Tapi,dari permasalahan diatas dia ingin menjadi seorang wirausahawan,kenapa harus mempelajari ini?

Yaa.. karnaaa.... untuk jaga-jaga,siapa tau perlu.

Siapa tau perlu? Emang ada hubungannya wirausahawan dengan menghitung debit air PDAM?

Hmmm.... ngga tau deh!
(maaf ini kenapa gue berdebat sama diri gue sendiri gini?)

2.Ternyata kepo itu ngga hanya dilanda sama kaum muda terutama secret admirer saja. Guru bisa juga ternyata. Lah buktinya pake nanya-nanya segala. Yaa mana gue tau alasannya?, pertama; gue bukan Andi,tukang PDAM itu. Kedua; Apa urusannya gue ngitung-ngitung debit air?. Ketiga; Apa jangan-jangan bapak/ibu guru ada hubungan sama Andi, dengan cara menarik perhatian dia dengan membantu dia menghitung debit air,dan ternyata ngga bisa,terus bertanya ke muridnya?.
Tapi jangan kalian mandang gue nulis ini sebagai sisi pelajar,tapi pandanglah gue disini sebagai sisi warga negara republik Indonesia.

Harapan gue untuk pendidikan Indonesia. Semoga bisa menyerupai pendidikan di Finlandia sana,atau lebih malah. Dan ngga hanya sebatas itu aja,tapi untuk temen-temen kita yang ngga seberuntung kita untuk mengenyam pendidikan sekolah,semoga “dijamah” sama pemerintah, atau ada temen-temen yang dengan sukarela bantuin mereka malah lebih bagus lagi, jadi bukan hanya kasihan atau simpati aja, tapi udah berbuat untuk kemajuan pendidikan Indonesia.

Ketinggian banget La harapan lo...

Menurut gue sih ngga masalah lah berharap nya tinggi-tinggi, coba lo periksa di UUD 45 ada pasal yang nyebut berharap tinggi-tinggi itu salah ngga?

Ngga ada.. tapi kan kalo harapan lo ngga kejadian gimana? Sakit kan?

Ya ngga masalah sih, sakit kan, sakit gue bukan lo.. yee :p
(Maaf sekali lagi, terkadang dalam nulis gue emang punya 2(dua) sisi yang berbeda)

Ps: Gue bukan menuntut kalian untuk setuju dengan yang gue tulis, gue cuma menuangkan apa yang jadi unek-unek gue selama ini.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar